Arsip untuk Januari, 2007

Finally the Movement has come …

FFIJakarta hari, para insan pelaku film nasional yang masih aktif melakukan sebuah gerakan. Tak hanya mengembalikan Piala Citra yang pernah diterima, Dian Sastro cs yang tergabung dalam komunitas ‘Masyarakat Film Indonesia’ juga punya tuntutan lain. Mereka meminta lembaga sensor film dibubarkan saja.
Dalam pernyataan sikapnya, komunitas yang mayoritas beranggotakan sineas muda tersebut mengaku selama ini kerap dikecewakan oleh lembaga perfilman Indonesia. Mulai dari sensor film, pelarangan film, hingga puncaknya kemenangan ‘Ekskul’ sebagai film terbaik 2006 yang dinilai penuh intrik.
Merasa harus bertindak untuk menanggapi situasi tersebut mereka menggelar aksi pengembalian Piala FFI yang pernah diterima. Piala tersebut nantinya akan diserahkan kembali ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. (dikutip dari Detikcom)

Ya, jika menilik kebelakang, sering kali hasil dari penyelenggaraan FFI belakangan ini sering menuai kontroversi. Peraih penghargaan Piala FFI tidak jarang bukanlah insan ataupun karya yang “kompeten” dan berprestasi baik di dalam negeri maupun di internasional. Sebut saja Film Berbagi Suami dan Opera Jawa yang banyak menuai pujian baik di dalam negeri maupun oleh internasional justru tidak masuk dalam nominasi Film Terbaik. Malah film “Ekskul” yang originalitas ceritanya masih patut dipertanyakan menjadi peraih penghargaan ini. Entah apa sebenarnya maksud dan dasar dari Dewan Juri FFI dalam memilih film ini sebagai jawaranya.  Yang jelas adanya gerakan dari para aktivis insan perfilman nasional ini menandakan akan adanya ketidakpuasan terhadap hasil dan kinerja dari FFI, LSF dan dukungan pemerintah terhadap perfilman nasional.

Penulis secara pribadi sangat mendukung langkah dari gerakan yang dilakukan oleh para insan pelaku perfilman nasional yang tergabung dalam “Masyarakat Film Indonesia” demi kembalinya kejayaan perfilman nasional.  Sudah saatnya apresiasi, penghargaan serta dukungan baik moril maupun materiil serta penilaian secara objektif diberikan kepada insan perfilman nasional. “Aku cinta… anda cinta… semua cinta… buatan Indonesia…” (Bimbo – ’80s FFI opening theme song)

Komentar (2)

A not (so) nice start at the beginning of 2007 …

Tahun 2007 belum juga lewat tujuh hari, namun beragam kejadian yang tidak mengenakkan justru mengawali perjalanan tahun Babi Api ini. Sebut saja terjadinya musibah tenggelam yang dialami oleh KM Senopati Nusantara, masalah kelaparan jamaah haji Indonesia yang masih belum tuntas dan belum jelas penyelesaiannya hingga hilangnya pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 Surabaya-Manado. Peristiwa-peristiwa ini setidaknya mengindikasikan adanya”ketidakberesan” (atau untuk lebih sopannya, “kurang beresnya”) kinerja instansi-instansi terkait, termasuk di dalamnya pemerintah dalam mempedulikan konsumen/pengguna jasa. Tujuan mulia yang dicanangkan di awal yakni untuk memberikan tarif murah bagi pengguna jasa ternyata menjadi tidak tercapai dan justru malah mengakibatkan kerugian atas terjadinya musibah-musibah ini. Sudah sepatutnya semua pihak belajar dan berkaca dari berbagai kejadian yang terjadi belakangan ini. Bahwasanya kenyamanan, keselamatan, keamanan dan kepuasan pelanggan adalah tetap menjadi fokus utama dari pelayanan yang diberikan oleh setiap instansi. Karena para konsumen inilah yang membuat dan menjadikan para penyedia layanan jasa ini dapat eksis dalam menjalankan usahanya. Dan sudah sepatutnya pula bahwa perlakuan terhadap konsumen ini dinomorsatukan tidak hanya pada saat-saat terjadinya krisis atau masalah semacam ini, akan tetapi diterapkan pada setiap kesempatan. Semoga awal yang kurang baik ini bukan menandakan akan bakal suramnya perjalanan tahun 2007 ini namun hanyalah sebagai pembelajaran di awal tahun demi gemilang dan keberhasilan di masa selanjutnya.

Tinggalkan sebuah Komentar