Finally the Movement has come …

FFIJakarta hari, para insan pelaku film nasional yang masih aktif melakukan sebuah gerakan. Tak hanya mengembalikan Piala Citra yang pernah diterima, Dian Sastro cs yang tergabung dalam komunitas ‘Masyarakat Film Indonesia’ juga punya tuntutan lain. Mereka meminta lembaga sensor film dibubarkan saja.
Dalam pernyataan sikapnya, komunitas yang mayoritas beranggotakan sineas muda tersebut mengaku selama ini kerap dikecewakan oleh lembaga perfilman Indonesia. Mulai dari sensor film, pelarangan film, hingga puncaknya kemenangan ‘Ekskul’ sebagai film terbaik 2006 yang dinilai penuh intrik.
Merasa harus bertindak untuk menanggapi situasi tersebut mereka menggelar aksi pengembalian Piala FFI yang pernah diterima. Piala tersebut nantinya akan diserahkan kembali ke Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. (dikutip dari Detikcom)

Ya, jika menilik kebelakang, sering kali hasil dari penyelenggaraan FFI belakangan ini sering menuai kontroversi. Peraih penghargaan Piala FFI tidak jarang bukanlah insan ataupun karya yang “kompeten” dan berprestasi baik di dalam negeri maupun di internasional. Sebut saja Film Berbagi Suami dan Opera Jawa yang banyak menuai pujian baik di dalam negeri maupun oleh internasional justru tidak masuk dalam nominasi Film Terbaik. Malah film “Ekskul” yang originalitas ceritanya masih patut dipertanyakan menjadi peraih penghargaan ini. Entah apa sebenarnya maksud dan dasar dari Dewan Juri FFI dalam memilih film ini sebagai jawaranya.  Yang jelas adanya gerakan dari para aktivis insan perfilman nasional ini menandakan akan adanya ketidakpuasan terhadap hasil dan kinerja dari FFI, LSF dan dukungan pemerintah terhadap perfilman nasional.

Penulis secara pribadi sangat mendukung langkah dari gerakan yang dilakukan oleh para insan pelaku perfilman nasional yang tergabung dalam “Masyarakat Film Indonesia” demi kembalinya kejayaan perfilman nasional.  Sudah saatnya apresiasi, penghargaan serta dukungan baik moril maupun materiil serta penilaian secara objektif diberikan kepada insan perfilman nasional. “Aku cinta… anda cinta… semua cinta… buatan Indonesia…” (Bimbo – ’80s FFI opening theme song)

& Komentar »

  1. benbego berkata

    Saya harapkan juga perfilman indonesia tidak monoton, perlu kreatifitas lebih. jgn terlalu banyak meniru budaya luar.

  2. ferdiz berkata

    kreativitas mutlak diperlukan namun dukungan dari berbagai pihak termasuk didalamnya oleh para pemegang kebijakan perfilman nasional juga diperlukan … (yang prihatin melihat maraknya film-film horror yang dibuat dengan sekedarnya saja tanpa mengutamakan kualitas)

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar